Posted in Absurd Stories

Untuk Hujan

 

Selasa, 15 November 2016 • 5:24 PM

 

Mengapa banyak manusia menyukai analogi hujan, langit, dan segala yang serupa?

Jika aku tahu jawabannya maka aku tidak bertanya.

Baiklah, aku mulai kacau.

Kalau begitu, aku ingin mengutarakan kisahku yang jika mungkin dapat disebut analogi.

Mari kita mulai.

 

Minggu kali ini adalah kelabu.

Minggu kali ini menjadi saksi bisu atas terdengarnya jerit penuh rasa sakit.

Minggu kali ini adalah berawan.

 

Hujan, temani aku! Aku kesepian!

Hujan aku benci sendiri!

Jeritan itu, entah sudah yang keberapa.

Langit tetap tidak menuruti keinginannya,

tidak peduli akan pintanya.

Tidak peduli suaranya tercekik habis.

Langit tetap bergeming.

 

Kamu tidak sendiri, bisik seseorang.

aku akan selalu disamping kamu.

Bisikan itu, entah sudah yang keberapa.

Namun, tidak ada yang mendengar.

Tidak ada yang menggubris.

Dan, tidak ada yang melihat.

 

Hingga hujan yang sesungguhnya,

turun membasahi bumi.

Membasahi Bumi yang juga tengah menangis.

Menangis ditemani Langit,

untuk Hujan yang tidak pernah kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s