Posted in Absurd Stories

Cuap-Cuap Penggabutan

Jum’at, 05 Mei 2017 • 2:21 PM

 

Hello! Long time no see, long time no story!

Setelah blog ini pernah terhapus sekian lama aing tidak menulis entri, now I will start it from beginning again!

Yak, jadi beberapa waktu lalu, gue sempet nggak sengaja ngehapus ini blog yang “anjir tulisannya banyak yang belum gue salin ke drive gue“! Gemas banget rasanya pas tragedi tersebut terjadi sampai akhirnya gue malas ngeblog berbulan-bulan—dan waktu itu juga lagi sibuk-sibuknya sama urusan kelas XII sih.

Yah, sebenernya nggak guna juga sih, mau blog ini kehapus atau nggak, nggak ada yang baca juga kan hehe. But, guys, gue kangen banget buat cuap-cuap tidak jelas lagi di sini 😦

Jadi, berhubung sekarang gue udah lulus dan jadi pengangguran, gue akan kembali produktif untuk menulis tidak jelas lagi! Yeay. (ada yang peduli?)

Rencana sih, gue bakal pakai blog ini untuk menulis review-review gitu deh. Yah, sometimes mungkin bakal dipakai buat nulis about my cheesy story bla bla bla yang as always tidak jelas lagi kali ya? (again, ada yang peduli?)

Ah, pokoknya sedang ingin mencoba nulis hal baru sih. Terus juga karena gue nggak ngerti gimana buat one-line-spacing di sini, puisi-puisi gue akan berpindah lapak ke Tumblr! Sila-sila jika ada yang mau mampir url-nya ada di panel sebelah kanan! (padahal blog ini aja nggak ada yang baca)

 

See ya deh!

 

Posted in Absurd Stories

Saya Menyukaimu

Jum’at, 13 Januari 2017 • 2:28 PM

 

Awalnya, saya menyukaimu karena rambutmu.

Lalu lama-lama…

ah, entahlah.

Saya tidak tahu, saya menyukaimu atau masih menyukai dia.

Saya ingin menjadi omega dia, tetapi dia tidak pernah menganggap saya ada.

Lalu, saya bertemu denganmu.

Saya selalu memperhatikanmu.

Duh, saya mulai lelah menulis ini.

 

Baiklah, saya lanjutkan.

Setelah sekian lama saya menyukaimu, tiba-tiba dia mendekati saya.

Memang hanya sekadar teman, saya yakin.

Tetapi, saya sangat terbawa perasaan.

Hingga kini saya tidak tahu menyukai siapa.

Saya bingung.

Padahal saya yakin, kamu ataupun dia, tidak akan memilih saya.

Bahkan, kamu pun tidak akan mau jika saya menyuruhmu untuk membaca tulisan yang saya tulis disaat saya jenuh dengan Fisika ini.

Karena saya sadar, kalau saya sama sekali tidak cocok untuk kamu ataupun dia.

 

Ah, saya bingung.

Saya hanya ingin bercerita tentang saya yang masih ingin menjadi omega-nya, tetapi saya pun senang memperhatikan rambutmu.

Saya bingung, apakah saya hanya menyukai rambutmu?

Entahlah.

Saya dan tangan saya sudah mulai pegal.

Posted in Absurd Stories

Untuk Hujan

 

Selasa, 15 November 2016 • 5:24 PM

 

Mengapa banyak manusia menyukai analogi hujan, langit, dan segala yang serupa?

Jika aku tahu jawabannya maka aku tidak bertanya.

Baiklah, aku mulai kacau.

Kalau begitu, aku ingin mengutarakan kisahku yang jika mungkin dapat disebut analogi.

Mari kita mulai.

 

Minggu kali ini adalah kelabu.

Minggu kali ini menjadi saksi bisu atas terdengarnya jerit penuh rasa sakit.

Minggu kali ini adalah berawan.

 

Hujan, temani aku! Aku kesepian!

Hujan aku benci sendiri!

Jeritan itu, entah sudah yang keberapa.

Langit tetap tidak menuruti keinginannya,

tidak peduli akan pintanya.

Tidak peduli suaranya tercekik habis.

Langit tetap bergeming.

 

Kamu tidak sendiri, bisik seseorang.

aku akan selalu disamping kamu.

Bisikan itu, entah sudah yang keberapa.

Namun, tidak ada yang mendengar.

Tidak ada yang menggubris.

Dan, tidak ada yang melihat.

 

Hingga hujan yang sesungguhnya,

turun membasahi bumi.

Membasahi Bumi yang juga tengah menangis.

Menangis ditemani Langit,

untuk Hujan yang tidak pernah kembali.